Pondok Kecil

Hanya sebuah persinggahan yang selalu bersedia menampung saya saat suka dan duka. Hehe


Manusia punya jalan hidup masing-masing. Dan hal itu adalah hal terbaik menurut Allah yang seharusnya mereka tempuh. Baik itu berupa kegembiraan maupun hal yang paling menyakitkan sekalipun adalah merupakan ukiran jalan hidup terbaik yang memang sudah sepantasnya diterima setiap individu.

Banyak sekali hal menarik yang saya terima setelah hampir 21 tahun menapakkan kaki di dunia ini. Dan, salah satu yang ingin saya bagikan kali ini adalah memori terindah saat menjalani hidup di 'penjara suci itu', my sweet dorm bersama sosok luar biasa lainnya.

Hmm, kira-kira sudah terhitung kurang lebih 2,5 tahun pasca berpisah secara resmi dengan Generasi 13 SMAN 1 Lubuksikaping. Tiba-tiba saya tertarik untuk membuka kembali lembar demi lembar untaian kisah yang dahulu pernah kami jalani bersama. Dan saya ingin berbagi di blok ini dengan harapan bahwa someday, salah satu, atau bahkan semua anak-anak SFG juga membacanya :)


Salah satu kenangan itu adalah saat jalan-jalan ke ladang Buk Yet.
Gambar : Beben, ii(saya), ridha, ima, agus, vivo, roery, yuni, dicky, ari (kiri ke kanan). 2007

Hahaha, Ini waktu kita kelas 2 SMA loh. Ceritanya, kami sekelas di ajak Buk Yet yang waktu itu merupakan wali kelas XI IPA 1 untuk main-main ke ladang beliau. Ladang tersebut terletak di atas bukit dan jalan menuju ke sana dipenuhi dengan pendakian demi pendakian. Serius, awalnya saya pikir hanya ladang biasa loh. Fuuhhh!!! Nah, jadi pada awalnya saya pergi dengan 35 orang astra astri lainnya. Namun, berhubung terdapat seleksi alam yang sangat keras pada bagian mendaki ini karena stamina setiap orang itu berbeda-beda, maka berlakulah hukum rimba,  “yang kuatlah yang sampai duluan”.Ckckck.
Dan, yang disaksikan dalam foto di atas adalah sepuluh orang terhebat dalam barisan. Hohoho, saya termasuk salah satu di antara orang-orang yang terpilih itu tentunya. Eitzz, jangan protes. Memang itulah kodrat sebenarnya yang harus terjadi. Malu kan kalau koor 'sekor' (baca : seksi olahraga) jalannya kayak siput. Dan, saya tak mau pamor saya jadi turun hanya gegara masalah posisi ini. So, walaupun bersusah payah dan terkadang langkahpun sudah terasa sangat berat menopang tubuh yang lumayan berat juga, saya harus tetap berdiri tegak dengan lagak sok kuat (padahal dalam hati sudah nyaris nangis. "Ibuuuuu, ii latiah", translate : "Ibuuu, ii capek" ). Rasain!!
Tapi moment ini g berlangsung lama, karena ibu langsung suruh saya pulang saat tau saya pergi mendaki bukit. Saya panik waktu itu, memang tidak ijin sih pergi, biasanya juga tidak ijin karena saya berangkat dari asrama. Eh, g taunya ibu tidak suka saya jalan-jalan seperti ini. Jadilah saya disuruh pulang seketika itu juga sampai ditawarin untuk menjemput. Tapi, saya tak mau merepotkan beliau. Jadilah saya pulang di antar Beben-pakai motor-menuruni bukit tersebut.
Tragis emank. Walau dengan berat hati meninggalkan teman-teman, saya tetap langsung pulang. Bukan ke asrama, tapi ke rumah (disuruh ibu). Awalnya agak mendongkol (maafkan ii, Bu). Tapi cepat-cepat saya berfikir jernih dan menangkap niat positif beliau. Jalan-jalan, ke hutan, cuma bersama teman-teman, rasanya sudah diluar kodrat sih. Dan sudah sepantasnya seorang ibu yang punya anak perempuan melakukan tindakan tegas dengan melarangnya. Ya, my mother always care more than I realize. Tapi saya senang pernah mendaki bersama. Itu adalah kali pertama saya pergi seperti itu, dan sampai sekarang tidak pernah lagi karena saya tak mau melanggar perintah orang tua. Hehe, walaupun julukan 'anak ibu' dan sebagainya disematkan pada saya oleh teman-teman, tapi saya bangga punya ibu seperti ibu saya.
 Love U Mom

 

0 Response to “Jalan-jalan ke ladang Buk Yet”

Leave a Reply

Ngobrol Yuk :)